Kupu-kupu kecil

sdgs

Aku menggeliat dalam kepompong yang hangat. Menarik, mencabik dan menggigit. Kurobekterlalu lentur namun ku koyak. Sungguh elastis kreasi alam ini. Aku hanya ingin mengintip sebentar. Memandang dalam keterbatasan ke ujung dunia yang entah seperti apa. Menantang alam kebinatanganku Atau kebinatangan diantara kemanusiaan? Menerima atau tidak, aku tak peduli. Yang penting aku bisa bebas berekspresi. Sedih tertawa. Menangis bahagia. Itulah aku… sang kupu-kupu.

Tabir terkeruk. Aku berhasil kabur. Meloloskan diri dari norma-norma kebinatangan yang mengikatku dengan lainnya. Menyongsong kebebasan. Melawan sang predator. Aku binatang yang merdeka. Ya.. merdeka! Binatang yang mencari arti kebinatangan itu sendiri. Hak dan kewajibanku selayaknya binatang yang tercipta karena Dia. Dia yang telah mengijinkan aku menjadi perhiasan alam. Sebuah varietas baru dari generasi ibuku. Seindah beliau atau terburuk dari yang pernah ada. Yang pasti aku adalah sang kupu-kupu kecil.

Kaki-kakiku terlalu lemah untuk berdiri. Sayap tipisku pun masih basah dan layu. Mungkin terlalu lama dalam kenyamanan. Belum terhempas angin yang akan memberikan kekuatan baru untuk menerbangkan aku melihat biru. Dan jika bertumbuh ingsang di dada, aku akan menyelam di laut merah seperti ikan-ikan itu. Aku iri. Aku harus hidup diatas air, sedangkan mereka hidup didasar air. Tapi apa yang harus aku pikirkan? Hidup bukan perbandingan karena perbandingan hanya akan memaksa terjerat pada kata “berbeda” dan “perbedaan”, tapi hidup adalah kesetaraan dalam kemuliaan.

Sungguh ironis sekali. Mataku berlari kesana kemari, kenapa aku sendiri? Dimana saudara sepertelurku? Apa mereka sudah menetas mendahuluiku? Meninggalkan aku seperti ibu? Mungkin mereka sudah terbang bebas menerjang angin, dihantam badai hingga binasa. Ataukah mungkin telur-telur bakal mereka sudah hancur sebelum mereka menikmati alam ini? Mati terpanggang matahari, atau sudah terinjak-injak kaki-kaki predator yang kejam? Ah… kenapa aku mesti sendiri?

Aku masih ingat. Ketika ibu menelurkan aku, menempelkan bakal diriku pada pohon pisang dipojok kebun itu. Bulir telur kecil. Seperti kutu yang terjepit kuku. Mecoba bertahan diantara hujan dan hujatan matahari. Aku bergerak-gerak, seperti cacing. Ya..seperti cacing. Yang jelek, berlendir dan kering jika menantang sang ultraviolet. Walaupun kami adalah binatang tapi kami berbeda bangsa. Aku hidup diantara dahan dan angin. Sedangkan dia terpuruk terperangkap seonggok tanah hitam. Sungguh…ini hinaan jika aku disederajatkan binatang rendahan itu. walau aku bermula dari telur yang lemah dan berubah menjadi ulat hijau yang gemuk berbaju tepung putih yang melembutkan aku, tapi ketika aku bermetamorfosis janganlah berdecak atas kehebatanku merubah diri. Aku yang buruk rupa dan tak berdaya. Aku binatang terindah. Aku kupu-kupu kecil.
Kupu-kupu kecil terbang mengitari apa yang tampak dimatanya. Saat itu baru aku tahu wujud manusia itu. Konon mahluk seperti itu adalah kreativitas Tuhan yang sempurna. Beruntun dari Adam dan Hawa. Dan akupun bertanya-tanya. Apakah mereka sendirian seperti aku? sebagai individu di ruang sosialitas yang tinggi. Bernaung pada kata ‘cinta Ilahi’.

Dalam hidup ini, apakah yang manusia cari?Ataukah manusia mencari apa? sesuatu yang berhargakah? sesuatu yang berbeda, mencolok dan spektakuler?terdesak keadaan dalam berbagai alasan mematri mereka dalam suatu bentuk ketiadaan. Hampa…itukah yang mereka rasakan? Suatu saat jika sudah bermetamorfosa, aku akan mencari manusia dan menanyakannya. Pasti mereka akan menjawabnya. Atau…mereka hanya diam tertegun…mengagumi atau bahkan membunuhku. Aku binatang. Aku seekor kupu-kupu.
Dan aku pun tertunduk dalam sujud malamku. “Tuhan..jika ku mampu menyentuh jauh ke dasar hati jiwa-jiwa yang terhimpit dengan jari yang lemah ini, kan ku hisap habis lara yang mengendapkan kebahagiaan mereka”.

Tak ayal hanya puja-puja terlaknat. Bersimpuh pada kekangan iblis. Tali magis mistis memaut kuat jiwa diantaranya mereka. Kapan ini bermulaaa…kapan ini terbinasa?kupu-kupu kecil ini tak berhak bercanda. Dia tak berhak. Aku pun tak berhak. Juga mereka…tak sedikitpun berhak.
Coba lihat bunga matahari di sudut taman itu. bunga matahari selalu menunjuk sudut datang sinar matahari. Kemanapun matahari beranjak dia selalu mengikuti. Walaupun mendung menadi tabir sinarnya, dia selalu mencari. Meski matahari terbenam sekalipun, dia dengan setianya menanti.

Kupu-kupu ini terkepak terbang dalam sayap bening tipisnya. Mengitari taman jiwa manusia. Mencari sebuah cinta yang mungkin bersembunyi disana. Oh…dimanakah dia? Apakah bersembunyi? Apa yang membuatnya malu dan menjadi pemalu? Toh sebenarnya dia bukan putri malu. Dia mawar merah yang selalu merekah di pinggir telaga itu. Sungguh indah. Tapi…dimanakah keindahannya? Mungkin dia sudah kering dan mengering. Jatuh dan bersatu dengan ilalang yang terendam di gundukan lumpur hingga merahnya tak lagi merah. Kuning, coklat…bahkan menghitam seperti arang. Mengkin dia juga sudah menjadi fosil.

Hampa. Sepi. Sunyi. Tak sedikitpun terdapati. Berteriak sekalipun gema tak kunjung datang. Dia terkunci dalam ruang dan waktu. Apakah ini dimensi? Ataukah aku yang terkapar dalam mimpi buruk hingga tak bangun-bangun? Mungkin aku sudah tersungkur dalam dasar neraka hingga Tuhan enggan menggendongku karena aku pendosa. Tapi Tuhan mendekapku. Ku rasakan itu. Hangat. Bukan siksa panas abadi seperti yang mereka ceritakan. Inikah surga? Atau masih merupakan bagian dari mimpi buruk ini? Tuhan…katakanlah padaku… apakah aku seekor pendosa?

Mati. Kapan akan tertemui? Sebongkah batupun rapuh dan runtuh. Seperti usus yang terburai dari perut sang pendosa karena belati. Menanti dalam ajal yang tak kunjung datang. Malaikatkah? Ibliskah? Atau keduanya? Yang bersedia menjemput jiwa yang tak terharap ini. Tuhan… lihatlah aku. Jemputlah aku… jemput aku dengan kereta kencanaMu. Kasihanilah aku. Aku hanya seekor kupu-kupu kecil terlemah.

Kupu-kupu kecil berlari kecil diatas angin. Mencoba memahami ilham yang terpancari. Aku bukan orang suci. Tak layak menjadi penyampai. Tangan ini terlalu pendek untuk menggapai. Garis ini tertalu rumit untuk ditelusuri. Sesuatu yang tak bisa diraba, dirasa, tercipta. Karena Aku hanya seekor kupu-kupu kecil.

Buku usang sudah habis digrogoti rayap busuk. Tak secuil sejarahpun yang tertinggal. Karena dia tak ingin diingat. Seorang tokoh heroik tak kan sanggup terpajang dalam susunan memorial. Malu. Terlalu malu. Sunguh memalukan. Tak pantas seorang hero mengheroikkan diri dalam kebanggaannya. Sunguh kisah kepahlawanan yang sia-sia. Menyebalkan!

Besi terlebur dalam bara api terpanas yang pernah Tuhan muntahkan. Hancur. Lebur. Tak bersisa. Kekuatannya pun binasa. Yang termilikipun tak kan berarti. Semua akan hancur. Ya….hancur! hancur seperi guci yang kau pecahkan itu. seperti gelas yang kau banting kemarin. Seperti telur ayam yang kau hempas dulu. Seperti dentuman pintu yang kau banting hari ini.

Nasi basi dijejalkan ke dalam mulutku. Akau hanya seekor kupu-kupu, aku hanya memakan sari madu bukan makananmu. Jangan kau paksakan. Mulut yang terlalu kecil untuk merasakan kebencian. Serasa ingin muntah. Kenapa dipaksakan? Aku tak mampu. Aku tak sanggup. Aku tak sepertimu. Kamu yang sepiring nasi busuk, yang tak pantas menghirup wanginya mawar itu. sungguh tak pantas! Aku bukan manusia! Aku seekor kupu-kupu kecil! Lihat lah aku… aku dan tubuh mungilku! Apa masih tak terlihat? Aku bukan manusia. Manusia yang memanusiakan aku hingga dalam matamu aku terwujud manusia. Aku kupu-kupu, bukan manusia.

Kupu-kupu kecil terus mengitari hingga terpana meronanya langit senja. Sedih. Duka. Terluka. Itu yang terasa. Tangisan tak kan menutupi kepedihan ataukah kebahagiaan yang mencambuki tubuh ini. Sakit.

Debur ombak perlahan. Semakin lama makin menderu dan memburu. Tanah pasir terkikis. Bahkan batu karang terkuatpun mulai meringis ngilu, tak sanggup menantang lagi. Akhirnya hanya mampu diam dan tak beranjak. Sepertinya ada sesuatu yang mengikat tumpuannya. Dan hanya pasrah dibaluri lumut hijau yang berkerak seumur hidupnya. Licin dan menjijikkan.

Debu bertebaran. Menerjang dengan segala dayanya. Menerobos apapun yang berdiri didepannya. Seraya berkata, “aku memang terkecil. Tapi aku sehebat hantaman tanah longsor yang menghancurkan tumpukan bumi itu”. Dia menerjang mataku. Memaksa masuk dan menyeruak. Menggigit pupil, mengebor kantung air mata hingga bocor. Aku menangis.

Hembus angin, jangan hempaskan. Terbang layang, jangan ulurkan. Percik air, jangan keruhkan. Nyala api, jangan kobarkan. Ambilah debu, jangan digenggam.

Tarikan, hirup, bernafas. Perlahan. Rasakan. Angin serupa serbuk udara masuk dari hidungmu, meresap jauh kerongga. Memompa paru-paru memberikan arti baru. Mendengar detak jantung, percepat dan terlambat. Jangan melawan angin. Kau akan terhempas. Terbanting. Bahkan berkeping-keping. Hancur.

Layang-layang beterbang awan. Melewati buih-buih fatamorgana. Diujung sore yang menghilang. Jangan ditarik. Dia akan merendah. Jangan diulur. Dia akan menjauh. Keseimbangan keinginan dan ambisi. Apakah kau dapat menjadi juri seadil-adilnya?
ah, memang manusia tak akan bisa mengerti, ketika aku, kupu-kupu kecil, berdemonstrasi.

10 thoughts on “Kupu-kupu kecil

  1. aku akan mebacanya lebih cermat dalam prementasi karyamu ini.
    aku bisa memahami sentralisasi manakah yang sebenarnya menjadi magma dalam karyamu yang ku anggap baik ini.

    selamat datang sahabatku berbagilah dengan penuh kejujuran saat menuangkan semua rasa dalam karya karyamu.

    aku suka gaya penilisanmu.

    salam hangat selalu

  2. ^>^

    mbag indah..
    itu,pure crita kupu-kupu,or perwujudan mbag indah yan9 jadi kupu-kupu…

    hehehehe”

    ^.^

    duwa-duwanyaaa….hihihihi

  3. metamorphosis.
    aahh. . . .br saja td ak posting tentang proses.
    bukankah metamorphosis juga suatu proses..??
    apa rasa hampa jg dialami kupu2.??
    knp ak bs buka page ini.??
    apa ini kbetulan.??
    apa ada kbetulan.??
    Lantas apa maksudna.??
    aaarrrgggghhhh. . . . mumet ak 😀

    tulisan mbak., dalem. Thanks ya mbak 🙂

    aku juga jd ikutan bingung, soalnya aku nulis itu pas lagi bingung hehehe..mari kita bingung sama2 😀 wah, pasti seru itu tulisanmu, nanti aku berkunjung yaa ^__^

  4. hari ini, hampir siang hari,seperti hari yang kemarin, kali ke dua, aku membaca sebuah karya kupu kupu, kali ke dua pula hadir keyakinanku, some time, some where, some how,akan terlahir karya hebat, dari kupu kupu kecil yang yang berdemonstrasi, dan jangan anggap aku tidak mengerti, karena aku mengerti, karena aku hidup di taman kupu kupu,yang selalu berlari kecil di taman angin…..

    selamat datang, di dunia kupu kupu kecil yang berdemonstrasi….. di ujung sore yang menghilang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s