another story of Rose

zsdf
Alam begitu stabil, mengkreasikan aku pada tumbuhan rose merah yang cukup terkenal pada masa itu. Atau mungkin juga masih populer hingga saat ini.

Dengan penuh percaya diri aku kumandangkan bahwa aku, walau hanya sebagian kepingan rose merah, adalah varietas rumpun bunga yang paling dipuja dunia. Tak hanya kumbang binatang, manusiapun tak segan ingin merengkuhku. Suatu saat jika ku menguncup dan merekah ruah tak kuasa keindahan pastilah menyambutku penuh suka cita. Terimakasih Tuhan… setidaknya untuk kenikmatan yang Kau berikan dikala aku menjadi sang idola.
Hmm…apa yang harus aku lakukan jika aku menjadi idola kelak? Semoga keangkuhan tak menjadi prioritas.
Aku hanya akan bermanja dengan alam, dan ingin sedikit berpartisipasi menghiasi dunia.Setiap hempasan kehidupan itu dimulai dengan hitungan detik. Karena itu aku berinisiatif untuk melakukan hal yang sama, menghitung langkah waktu hingga kuncupku diijinkan untuk menyembul disela-sela batang yang menopang hidupku. Sungguh aku merasa hutang budi, aku mungkin varietas terlemah yang hanya berdiri diam, dan berayun jika angin meniupku lembut kencang. Dan aku ini hanya sebagian kecil dari tubuh yang bernama rose, walaupun begitu aku adalah bagian yang paling dinanti karena akulah mereka memberi tubuh itu nama rose. Untuk membalas kebaikannya aku pasti memberikan rekahan yang terindah. Pasti!

Fajar pagi mulai mengisi absensi. Mengeriyip sedikit untuk sekedar melirikku. Ah dia mulai mengintip! Matahari menyembul bulat seperti kuning telur ayam kurasa, walaupun sebenarnya aku sendiri belum pernah menyaksikannya, hanya saja intuisiku yang bercerita. Kala ini aku masih buta. Walau aku mahluk yang selalu tertanam dalam tanah seumur hidupku, tapi Tuhan tak luput memberikan anugrah semacam indra padaku. Dengan itu aku bisa berselera rasa ketika malam ataukah pagi yang mendampingiku. Sedikit banyak ku tahu itu. Binatang malam lah yang mengatakannya padaku. Bahwa mentari pagi itu indah sekali. Hhmmm…aku sedikit mendesah tanpa keluhan. Ini belum pagi benar, ufuk barat masih sedikit gelap dan sebelah timur bersemu terang kuning keemasan. Terpancar keindahan yang sangat menjanjikan. Tak sekedar bangunan-bangunan megah yang manusia buat untuk menandinginya, lalu sejenak kemudian berubah puing-puing tak berguna tatkala alam sedikit menggeliat dan atau hancur karena manusia itu sendiri.

Terbersit ketakutan pada diriku. Mampukah mensyukuri hidup diantara bangunan itu dengan sedikit sentuhan matahari? Sanggupkah aku membela diri ketika alam memarahiku dengan petir, angin dan hujan? Ataukah melindungi diri dari jangkauan jemari manusia yang hendak merenggutku, memisahkanku dari tubuh yang menghidupiku? Dan disaat itu aku mungkin hanya mampu mendengar pujian, “ cantik sekali bunga ini ”. disaat itu juga aku akan merasakan sesuatu yang para serangga bilang itu sangat menyakitkan! Ah seperti apa rasa sakit itu? terenggut paksa. Dipisahkan dari tangkai yang menopangi. Menciumi dan memindahkanku pada benjana antik berwarna abu-abu biru. Atau bahkan menarik, mencabik, merobek kelopakku satu-bersatu hingga mahkotaku terhempas ke tanah semuanya. Sungguh, ini sangat kejam! Mungkin aku hanya sanggup menangis tanpa perlawanan.

Bintang bergelayut malam, kurasakan semilir sejuk menghampiriku, menciumiku. Ah mesranya… aku begitu terbuai walau sesungguhnya detik-detik itu aku belum terlahir benar. Aku menikmatinya diri dalam batang yang lebat kuat dan penuh duri. Binatang-binatang malam lah yang mengisahkan padaku betapa alam sungguh mendukung kehadiranku. Hingga mereka bernafsu menyentuh dan merenggutku. Yah… pada masa itu aku memang belum terlahir benar.

Mereka menantiku. Mencintaiku atau bahkan mencekik dan membunuhku. Mereka berkeinginan. Entahlah apa yang akan terjadi jika hari kemunculanku itu tiba.Aku berusaha menjangkau pada range yang engkau tentukan. Tak kan pernah menyangka aku senekat ini. Dan kamu pun pasti terkejut, karena aku sebenarnya tak penuh kejutan. Sepertinya standard yang kau berikan terlalu berat, walau ku telah menjingkatkan kakiku sedekat mungkin dengan angka yang kau tawarkan tapi tetap saja jemari kaki ini tak kan mampu menyangga beban badanku ini. Ah semakin tak kuasa, aku ingin menyerah saja. Tapi apakah ini harga yang pantas untukku?

Setangkai bunga yang cantik. Orang bodohpun tak habis pikir, mengapa bunga secantik aku hanya berada pada level terendah. Penyandang tuna netrapun sanggup melihat betapa eloknya aku ini. Atau mungkin sebenarnya kau yang buta?Ku jumput kelopak yang rontok satu persatu. Kurangkai… kurakit semirip mungkin seperti tubuh yang pernah menjadi milikku. ku cium perlahan, menghirupnya dalam-dalam. Sungguh…aroma kelopak kering sungguh mempesona. Seandainya masih segar bugar, pastilah akan lebih harum dari pada ini. Tapi ini saja cukup. Ku sanggup merangkainya pun sudah suatu mukjizat.

Semilir angkin menemaniku. Kembali menjumputi kelopak yang berguguran, mengering menyatu dengan alam. Semangatku timbul dan tenggelam. Kadang terasa hampa. Seperti berdiri diantara ribuan bintang di antariksa yang miskin oksigen.Aku melayang. Terbuai kesana kemari. Seakan menari diiringi irama orkestra, dengan vokal sopran yang kusuka. Melegakan sekaligus menyeramkan. Berayun dan kadang terhempas. Aku tak berdaya. Tak punya penyangga yang bisa mengikatku kuat-kuat agar semilir berubah sangar tak hendak menerkamku. Seperti berlindung diantara monster-monster yang geram.Mereka meretas mimpi. Bergoyang-goyang mengidam asa. Ilalang yang menyambut pagi. Di hinggapi titik embun dingin yang menusuk-nusuk, tapi tetap saja terasa sejuk. Ah segar. Mereka pun bernyanyi untuk para ilalang yang gemar merentang tulang-tangkai yang menjulang menyangga sembaris hijaunya. Taksadar berujar “cobalah mengerti sedikit saja, tak kan lebih. Biarkan angin membuai dan tubuhku terus bergoyang. Tak kan lama, semua hanya sekejap saja. Aku tahu waktu tak memberi toleransinya untukku”. Ah bahagianya.

4 thoughts on “another story of Rose

  1. walau belum waktunya,belum saatnya,tapi nanti aku akan menjadi seekor lebah, sudah kodratku harus menghisap madu, dari mawar teindah dalam taman, biar aku bisikan pada malam tentang mawar itu, yang terindah itu, yang tertanam dalam tanah subur itu, yang takan aku biarkan kelopaknya rontok satu persatu, izinkan aku berada dalam kodratku, biar ku cium perlahan dan hirup wanginya dalam dalam,hingga wangi itu tersimpan, hingga biarlah wangi mawar tak lagi terdengar,…karena wanginya masih tersimpan,..di dasar indra penciumanku…yang selalu terjaga….oleh lebah yang belum saatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s