NamaKu Ucup Siregar

Entah apa yang ada difikiran ibu biologisku, sehingga dia menolak atas kehadiranku dirahimnya itu. berkali-kal ia teriak, mengancam dan menepuk2 perutnya itu. perut tempat bersarangnya tubuhku yang tak berdaya itu. hanya itu yang kuingat.selebihnya, aku tak pernah tau.yang kurasakan hanyalah pelukan dan kecupan sayang dari sepasang manusia yang menyayangiku. dulu.

aku terlahir. tubuh yang kecil, kulit hitam legam dan rambut kriting ini. hum.. mama…papa…hanya kalian berdua yang mengatakan aku ini tampan dan tak jijik untuk membelai dan membuaiku dalam dekapan. dengan penuh cinta jalian menyematkan nama indah buatku “Muhammad Yussuf Siregar”. yah, tak sengaja aku kecirpratan marga ayah, Achmad Yanni Siregar, yang tentu saja itu marga batak. dan mamaku yang berdarah jawa, Sri Lestari. sebenarnya aku tak berhak atas marga itu. marga yang diberikan untuk keturunan langsung saja. keturunan yang secara biologis jelas pertaliannya. ketika itu aku tidak menyadari, mungkin hingga saat ini, karena aku masih terlalu belia untuk memahami semuanya. memahami tentang hidup. terlalu belia untuk mengerti dan menerima kenyataan bahwa aku adalah anak angkat. tapi, papa menurunkan marga itu padaku.walaupun, mereka hanyalah orangtua sosial, bukan orangtua biologisku.

sedari lahir, hingga aku mampu membuka mata, mempertajam pendengaranku. yang kulihat adalah senyuman mama papa. yang kudengar hanyalah lagu indah dan ucapan sayang mama papa. aku bahagia. hidupku bertumpah kasihsayang. aku dimanjakan. mama papa. aku mencintai mereka.setiap detik yang kurasakan adalah kecupan sayang yang papa berikan. pelukan hangat yang mama berikan. tentu saja, karena itu semua, aku tumbuh dengan segudang ego dan kenaifan diriku sebagai anak tunggal yang sealu disayang dan dimanjakan.

walaupun, seluruh keluarga besar menolakku,menolak kehadiranku.

tapi, mama papa selalu membuatku tenang.

namun itu hanya sesaat…

semua berubah drastis ketika usiaku menginjak ke 4 tahun.

ntah apa maksud Tuhan atas semua ini. papa tiba2 saja jatuh koma. kata mama, papa itu baru aja makan rujak,lalu tiba2 tersedak, muntah dan pingsan. kata dokter, papa kena serangan stroke. mama yang tak kuasa hanya menangis dan menangis. dalam kondisi itu aku dititipkan ke nantulang, dari bond papa, setidaknya ada yang merawat aku yang masih balita itu. setelah beberapa hari koma, ternyata Tuhan berkata lain, mungkin Tuhan terlalu sayang sm papa hingga papa harus pergi. meninggalkan aku dan mama selamanya. mama menangis. aku hanya diam,karena aku belum tahu apa-apa.

setelah kepergian papa. permasalahan demi permasalahan muncul.dari perebutan harta warisan hingga segala tetek bengeknya. mama menyelamatkan aku dengan membawaku pergi dari rumah kami. rumah mama dan papa. yang diambil alih oleh pihak papa.mama dengan tegarnya menggendong aku. tanpa tangis.dan aku, saat itu aku belum mengerti apa-apa. yang ku tau hanya rasanyaman yang berusaha mama berikan padaku.mama membawaku kerumah yang baru saja ia kontrak sembari menunggu keluarga besar mama datang dari Lampung untuk membicarakan segala sesuatunya, demi kebaikan mama. tak lama,mereka datang. nenek, kakek, dan 2orang budeku yang cantik. bberapa hari kemudian,mereka membawaku pergi. pergi meninggalkan mama. memisahkan aku dengan mama.. mama…apa yang harus aku lakukan ma?

mama juga keluarga sepakat untuk menitipkan aku dirumah ibu, kakak mama yang ke tiga, untuk sementara waktu hingga kondisi dan keadaan kembali pulih. aku dititipkan disana dengan pertimbangan: ibu punya 3 orang anak yang masih SD dan ABG, jadi setidaknya aku ada teman bermain. aku masih berumur 4 tahun , saat itu. lalu, mulailah aku ke dalam babak baru kehidupanku. karena aku terbiasa dimanja sm mama papa, aku terbiasa selalu disayang dan diperhatikan sama mama, maka terbentuklah aku menjadi anak laki2 kecil yang bandel, dan nakal. mungkin sebagai akibat dari penolakan mama biologisku sewaktu aku dalam kandungan, aku tumbuh dengan kecerdasan yang pas-pasan dan suka senyum2 sendirian, sampe2 sepupu2ku itu mikir kalau aku ini sedikit gila. aku menjadi anak yang super bandel. karena ibu udah ga tahan dengan kenakalanku dan begitu repotnya beliau merawatku, lalu aku diserahkan ke mama sari, kakak mamaku yang ke 4.

hidup dengan mama sari dan papa Sam membuatku serasa bersama mama papa lagi. aku dimanja, walau papa mama sedikit tegas dan sangat disiplin. ini tak mengapa karena memang kebandelannku sudah kelewatan. aku bahagia bersama mereka. walau kadang2, mamaku datang menjengukku sebulan sekali. itu tak mengapa.setidaknya bersama mereka aku merasa bersama mama papaku.

sayang,,, kebahagiaanku itu tak berlangsung lama…

mama sari dan papa Sam, ntah mengapa, aku tak mengerti, tidak ada konflik yang berarti. namun, papa Sam dan mama Sari harus berpisah. dalam proses perceraian yang panjang itu, proses perceraian yang memakan waktu 2 tahun itu, aku, lagi lagi, harus diungsikan lagi. aku dipaksa untuk berpisah dengan mereka. kebahagiaanku yang sudah kembali, direnggut lagi. pada akhirnya, aku diasuh oleh kakek dan nenek. walaupun Bunda, kakak mamaku yang pertama, mau mengasuhku, hanya saja Bunda bingung karena Bunda juga sibuk, kedua kakak sepupuku yang sudah besar itu juga tidak ada dirumah, mereka merantau. yang ada hanya ayah dan pembantu dirumah. sedangkan ayah sendri sibuk dengan pasien2nya. Bunda kuatir, tidak ada yang memperhatikanku nantinya, hingga keputusannya adalah : aku harus tinggal sama kakek dan nenek.

lagi lagi, aku merepotkan kakek nenek dengan kebandelan dan kenakalanku. berkali2 aku membuat darah tinggi nenek kambuh lagi. berkali-kali aku membuat kakek diomelin nenek karena kenakalanku. aah… apa yang bisa aku lakukan? aku hanyalah seorang anak lagi2 kecil yang blum mengerti apa2. yang ku bisa hanyalah bermain…bermain..bermain…

dan..lagi2..membaut masalah

setiap kakek nenek mengajariku mengaji..ada saja alasanku

setiap kakek nenek mengajariku belajar matematika.. selalu saja aku kesulitan memahaminya.

setiap kakek nenek mengingatkanku untuk solat..selalu saja aku mangkir.

kebandelanku yang luar biasa membuat kakek nenekkerepotan dan jadi sakit2an karena kepikiran.

selalu saja membuat kakek nenek repot karena pengaduan para tetangga yang anak2nya aku hajar krn mengejekku dengan “ucup kriting…”. “ucup dekiil..” “ucup jeleeek..”. “ucup anak punguut”. “ucup item jeleek”.

dan, kebodohan besar yang aku lakukan adalah : AKU GA NAIK KELAS!! aku harus tinggal di kelas 2 SD, lagi.

terlebih, waktu, itu, aku mendengar dari para tetangga bahwa aku ini hanyalah anak angkat.aku menanyakan msalah itu ke kakek. kakek hanya tersenyum, “nak, kelak kalau kamu sudah dewasa, kamu pasti mengerti.”

apa yang harus aku lakukan Tuhan…

yang aku inginkan hanyalah berkumpul dengan mama papaku lagi. papa Iyan dan mama Tari.aku ingin dipeluk dan dikecup lagi. oleh mereka …mama papa…tpi apa yang bisa aku lakukan? aku hanyalah seorang anak-laki-laki yang baru berusia 8 tahun..

dan ketakutanku yang terbesar saat ini adalah Pondok Pesantren. iya. Pondok Pesantren. ini usulan sekeluarga besar, supaya aku mendapatkan pendidikan yang lebih baik, karena mereka merasa gagal mendidikku, mereka merasa kewalahan mengasuhku… mereka terlalu tua untuk selalu memperhatikan setiap gerak gerikku. terlebih, kesalahan terbodohku itu, “tinggal kelas”, yang membuat mereka yakin tempatku disana adalah lebih baik.

apa yang harus aku lakukan Tuhan.. aku tidak tau apa yang baik untukku.. maka pilihkanlah Tuhan. Karena jikalau Engkau yang memilihkannya, dimanapun aku nantinya, aku yakin itulah yang baik untukku. sekarang yang kupunya hanyalah rasa rindu yang terbelenggu. rasa rindu akan kehadiran papa dan mamaku.. mungkin, mama aku yakin masih bisa untuk bertemu berpeluk dan mengecup. tapi papa… ntah kapan aku bisa menemuinya. sedangkan orang tua biologisku, sungguh, aku tak pernah mengharapkannya.

Advertisements

14 thoughts on “NamaKu Ucup Siregar

  1. emang itu kisah betulan?

    kalo iya… innalillahi wainnailahi rajiun… kok ada orang tua kayak gitu 😦

    ya moga2 si ucup mendapatkan pengasuh yang baik yang mampu membimbingnya menemukan Tuhannya

    salam 🙂

  2. @mas Heri: iya mas..itu cerita beneran. lebih tepatnya, si ucup itu adik sepupuku 😀 ibu biologisnya itu sebenarnya sodara sepupunya ibuku, lebih tepatnya sodara satu buyut 🙂 mungkin pengaruh dari psikologis ibunya sewaktu mengandungnya *stres* akhirnya berdampak juga ke kondisi psikologis si ucup yg nampak aneh … tp gimana2 dia adikku, aku sayang sm dia 🙂

    @isyifa: amin…trimakasih mbak 🙂

    @cantigi: amiin..iya mas..semoga adikku selalu diberi kemudahan sm Allah..amiin 🙂

    @wahyu kresna: begitulah hidup…tak hanya orang tua saja yang menanggung, tapi anak sebelia Yusuf juga 😦

    @kajiankomunikasi: iya… seharusnya begitu… dimana ibu kandungnya yaa?? ibu kandungnya sering nongol…tapi ga pernah kasih pelukan 😦

  3. Bener kan, ternyata banyak orang mempunyai masalah yang lebih besar dan lebih rumit dari masalah kita. Kalau Ucup saja masih ceria dan semangat, kenapa Yaya yang masalahnya tidak ada seujung kukunya sudah menyerah 🙂
    Semoga Ucup mendapat kemudahan dan mendapat jalan TUhan, karen kita yakin jalan TUhanlah yang terbaik 🙂

  4. mas Heri : ucup mah sedih ga sedih, dimarahin ga dimarahin tetep aja nyengir mas.. dia memang anak yang selalu ceria 🙂

    @cahayadihati: iya.. selayaknya kita selalu bersyukur,sekecil apapun yang diberikan Allah, baik berupa kebahagiaan bahkan kesedihan 🙂
    amiin… makasih ya mbak bwt doanya..semoga Ucup mendapatkan kebahagiaan sejatinya 🙂

  5. […] ga dateng-dateng juga. reproduksinya tante kondisinya baik-baik aja, tapi suaminya nggak. akhirnya mereka mengadopsi seorang anak. mereka cukup bahagia meski tidak memiliki anak kandung. inget tulisanku di sini? judulnya […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s