Microchips

boneka panda..
sepeda roda tiga..
ayunan..
rimbunan pohon bambu..
rumah…
rintik hujan..
bias pelangi…
semua terekam apik dalam satu microchips memori.
mengendap.. hingga saat ini, bahkan mungkin selamanya..
Intro: Si Kupret pun Kembali
setiap kali kaki ini melangkah menyusuri jalan2 yang tak bertuan
setiap kali pula memori memindai momentum yang hadir di tengah2 perjalanan panjang itu
dan..
sejauh apapun aku melangkah.
aku pasti kembali..
disini.. dirumah ini ^_^
Sayap Imajiner

Pernahkah kita berhayal memiliki sepasang sayap di punggung kita? Dengan sayap itu, kita berharap bisa terbang kemana saja yang kita mau tanpa harus terbatasi oleh jarak dan waktu. Merasakan kebebasan yang luar biasa. Terbang dan “hinggap” dari satu pohon ke pohon yang lain, dari satu bukit ke bukit yang lain.. melangkah di atas awan, bermain di atas permukaan samudera, mendarat dari satu benua ke benua lainnya… bahkan, berdendang di atas bulan dan menari bersama jutaan bintang di langit sana.
Kita sadar bahwa sayap kita pun tidak memiliki “kekuatan” yang kekal untuk terus mengepak dan menuruti kemanapun kita mau.. dan disaat sayap itu terluka, kita bahkan tidak tahu apa yang harus kita lakukan. Siapkah kita terus melayang hanya dengan satu sayap karena sayap yang lain terluka? bahkan, terus “terbang” tanpa sayap sekalipun dan berusaha mewujudkan apa yang ada di angan-angan kita, mimpi-mimpi kita?
awaaarrddd!!
Kopi Pahit itu pun terasa manis…

Ada kalanya, kita menuntut sesuatu yang lebih dalam hidup kita. Bahagia selamanya, senyuman setiap saat, keceriaan yang tiada akhir. Semua tentang “selamanya”. Sesuatu yang kekal, yang abadi dan tak ingin lekang oleh waktu. Namun, kita harus sadari bahwa tiada yang kekal di dunia ini. Dan ketika kita berdiri dalam suatu kondisi, semua tidak selalu sama seperti apa yang ada dibenak kita. Lalu, apa yang kita lakukan?
Hanya tentangku, itu saja

Di depan komputer ini, tiba-tiba airmata saya mengalir begitu saja. Ada perasaan yang ntah mengapa, meledak tanpa permisi. Tidak..tidak..tidak.. ini bukan tentang dia. Tapi tentang sesuatu yang ada di dalam diri saya.
mengapa harus menangis?
Read the rest of this entry »
Endlessly Poem

seorang laki-laki paruh baya, duduk tenang di atas batu besar di pinggir sungai sore itu. Pakaian hitamnya yang mulai pudar dan lusuh, tak memudarkan ketulusan yang terpancar dibalik sunggingan senyum di bibirnya. “inilah belahan jiwaku…”, ujarnya, sembari melirik caping dan seruling bambu yang ia letakkan di sisi kanannya. Caping dan seruling itu memang tak pernah jauh darinya. Ia hanya meninggalkan benda-benda kesayangannya itu ketika ia berada di surau.
Dan Semuanya Berakhir…

Perceraian itu, tidak pernah membawa kebaikan baik siapapun. Baik diri dua individu yang berpisah itu, anak-anaknya ataupun keluarganya… yang ada hanyalah torehan luka yang mendalam.. yang tak tahu sampai kapan akan terus menganga.
Lalu, dimanakah cinta itu?
Apakah masih sedikit bersisa untuk mendamaikan hati yang terluka?


pertama, dapat dari



